Ketua Dewan Redaksi
Dr. Farid, dr., Ir., SpOG(K), M.Kes., M.H.Kes.

Dewan Redaksi
- Prof. Hidayat Wijayanegara, dr., SpOG(K)
- Prof. Dr. Undang Santosa, Ir., M.S.
- Dr. Anita Deborah Anwar, dr., SpOG(K)
- Achmad Suardi, dr., SpOG(K), S.H., M.H.
- Ma'mun Sutisna, Drs., S.Sos., M.Pd.

Alamat Redaksi
Akademi Kebidanan Medika Obgin
Jl. P.H.H. Mustofa no.58 Bandung
Tel. / Fax. : 022-7200035 
e-mail : redaksi@jurnalpendidikanbidan.com
Facebook MySpace Twitter Google Bookmarks 

MO-KTI-1601-2013


Pengetahuan, Dukungan Suami Dan Dukungan Bidan Pada Akseptor IUD dan Non IUD

Di Wilayah Kerja Puskesmas Ibrahim Adjie Kota Bandung


Budiadi N, Wijayanegara H, Aliansy D

Program Studi Diploma III Akademi Kebidanan Medika Obgin Bandung



Abstrak
Di Indonesia berdasarkan data dari BKKBN mayoritas peserta KB sampai bulan Maret 2012, didominasi oleh peserta KB yang menggunakan Non Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (Non MKJP), yaitu sebesar 83,18% dari seluruh peserta KB. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim yakni AKDR adalah alat kontrasepsi yang disisipkan kedalam rahim, efektif, reversibel dan berjangka panjang. Tujuan umum dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui pengetahuan, dukungan suami dan dukungan bidan pada akseptor IUD dan Non IUD dalam penggunaan Alat Kontrasepsi Dalam Rahim di Wilayah Kerja Puskesma Ibrahim Adjie Kota Bandung. Jenis dan rancangan penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif, menggunakan pendekatan cross sectional study. Menggunakan data primer yang akan diperoleh dari kuesioner dan pengamatan subjek akan dilakukan satu kali selama penelitian. Dari hasil penelitian pada akseptor IUD diperoleh 42 (46,7%) responden berpengetahuan baik, mendapat dukungan suami sebanyak 82 (90%) responden, dan mendapat dukungan bidan sebanyak 86 (94,4%), sedangkan untuk akseptor Non IUD diperoleh 41 (45,1%) responden yaang memiliki pengetahuan cukup, 54 (59,3%) responden yang mendapat dukungan suami dan 62 (68,1%) responden yang mendapat dukungan bidan.

Kata Kunci: Pengetahuan, dukungan suami, dukungan bidan, Pengguna Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)

1.    Pendahuluan
Salah satu masalah terpenting yang dihadapi oleh negara berkembang, seperti di Indonesia yaitu ledakan penduduk. Ledakan penduduk mengakibatkan laju pertumbuhan penduduk yang pesat hal ini karena minimnya pengetahuan serta pola budaya pada masyarakat setempat. Untuk mengatasi permasalahan tersebut pemerintah Indonesia telah menerapkan program Keluarga Berencana (KB) yang dimulai sejak tahun 1968 dengan mendirikan LKBN (Lembaga Keluarga Berencana Nasional) yang kemudian dalam perkembangannya menjadi BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) dan berganti nama menjadi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Gerakan Keluarga Berencana Nasional bertujuan untuk mengontrol laju pertumbuhan penduduk dan juga untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Keluarga sebagai unit terkecil kehidupan bangsa diharapkan menerima Norma Keluarga Kecil bahagia dan Sejahtera (NKKBS) yang berorientasi pada “catur warga”. Gerakan Keluarga Berencana nasional Indonesia telah berumur panjang sejak  tahun 1970 dan masyarakat dunia menganggap Indonesia berhasil menurunkan angka kelahiran dengan bermakna. Masyarakat dapat menerima hampir semua metode medis teknis Keluarga Berencana yang dicanangkan oleh pemerintah. Keluarga Berencana merupakan suatu cara yang efektif untuk mencegah mortalitas ibu dan anak karena dapat menolong pasangan suami istri menghindari kehamilan resiko tinggi. KB tidak dapat menjamin kesehatan ibu dan anak, tetapi dengan melindungi keluarga terhadap kehamilan resiko tinggi, KB dapat menyelamatkan jiwa dan mengurangi angka kesakitan akibat hamil dan bersalin. KB merupakan salah satu metode untuk menunda kehamilan sementara dan  mengendalikan pertumbuhan penduduk, mengatur jarak kelahiran, dan usia ideal melahirkan. Adapun  program-program pokok dari KB yaitu, Program kesehatan reproduksi, program kesehatan remaja, program ketahanan dan pemberdayaan keluarga, sistem informasi kependudukan. Diantara berbagai metode kontrasepsi yang ada, terdapat Metode Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR), AKDR adalah metode berKB dengan menggunakan suatu alat atau benda yang dimasukkan ke dalam rahim yang sangat efektif, reversibel dan berjangka panjang, dapat dipakai oleh semua perempuan usia reproduktif. Di Jawa Barat jumlah peserta KB aktif pada tahun 2011 menurut data dari BKKBN terdata sebesar 6.381.302 (73,46%) pasangan usia subur, meningkat sebesar 184.434 (2,98%) bila dibandingkan dengan peserta KB aktif tahun 2010 terdata sebesar 6.196.868 (73,06%) dari pasangan usia subur. Pada tahun 2011 peserta KB Non Hormonal terdata sebesar 991.046 (15,53%) dari total peserta KB aktif terdapat kenaikan sebesar 2.702 (0,27%) bila dibandingkan dengan tahun 2010 peserta KB Non Hormonal terdata sebesar 988.344 (15,95%) dari total peserta KB aktif. Peserta KB IUD pada tahun 2011 di Jawa Barat sebesar 709.745 (11,12%) dari total peserta KB aktif terjadi penurunan sebesar 13.835 (1,91%) bila dibandingkan dengan yang terdata tahun 2010 sebesar 723.580 (11,68%) dari total peserta KB aktif. Penelitian dilaksanakan di wilayah Puskesmas Ibrahim Adjie Kota Bandung pada tahun 2012. Di Puskesmas Ibrahim Adjie Kota Bandung pada tahun 2011 terdapat 4.011 peserta KB aktif dan 457 peserta KB baru dengan penggunaan KB Suntik 2.830 (71%) peserta, IUD sebesar 840 (21%) peserta, Pil 248 (6%) peserta serta Implan 93 (2%)  peserta. Untuk pemakain IUD pada tahun 2012 dari bulan Januari sampai bulan Juni 2012 terdata sebanyak 36 peserta KB baru IUD, Suntik 169 peserta, Pil 6 peserta serta Implan 3 peserta KB baru.

2.2 Tinjauan Pustaka
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui panca indra manusia yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pada tahun 1909 Ritcher melaporkan pengalamannya dengan IUD terbuat dari usus ulat sutera. Grafenberg, juga pada tahun 1909 memulai kerjanya dengan usus ulat sutera dan kemudian membuat lingkaran usus yang dipertahankan oleh suatu kawat yang mengandung Ag dan Cu. Tahun 1934 Ota menuturkan pengalaman dengan IUD-nya di jepang.
Tahun 1959 Oppenheimer di israel menuturkan pengalamannya selama tahun 1930-1957 dengan Grafenberg ring, dengan angka kegagalan 2,5 per 100 wanita pertahun. Dari laporannya tersebut, timbul usaha-usaha intensif Amerika Serikat yang menghasilkan Marguiles spiral, Lippes Loop dan Saf-T-Coil pada awal dasawarsa 1960-an. Pada akhir dasawarsa 1960-an Zipper menemukan IUD yang mengandung Cu. Scummegna kemudian menemukan IUD yamg mengandung hormon progesteron (progestasert-T). AKDR adalah suatu alat atau benda yang dimasukkan ke dalam rahim yang sangat efektif, reversibel dan berjangka panjang, dapat dipakai oleh semua perempuan usia reproduktif. IUD adalah kontrasepsi yang terbuat dari plastik halus berbentuk spiral (Lippes Loop) atau berbentuk lain (Cu T 380A atau ML Cu 250) yang dipasang didalam rahim dengan memakai alat khusus oleh dokter atau bidan / paramedis lain yang sudah dilatih.

3.3 Metode Penelitian
Jenis dan rancangan penelitian yang akan digunakan adalah metode penelitian deskriptif, menggunakan pendekatan cross sectional study. Menggunakan data primer yang diperoleh dari kuesioner dan pengamatan subjek dilakukan satu kali selama penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh akseptor IUD dan non IUD peroide bulan September 2011 sampai Desember 2011 di wilayah Kerja Puskesmas Ibrahim Adjie Kota Bandung. Populasi yang menjadi sasaran akhir dari penelitian, populasi target dari penelitian ini yaitu seluruh akseptor IUD dan non IUD peroide bulan September 2011 sampai Desember 2011 Sebanyak 332 peserta. Bagian dari populasi target yang dapat dijangkau, populasi terjangkau dari penelitian ini yaitu akseptor IUD dan non IUD di wilayah kerja Puskesmas Ibrahim Adjie periode bulan September 2011 sampai bulan Desember 2011 dengan jumlah sampel 182 sampel. Penelitian ini menggunakan simple random sampling.

4.4 Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan tentang pengetahuan, dukungan suami dan dukungan bidan pada akseptor IUD dan non IUD diwilayah kerja Puskesmas Ibrahim Adjie kota Bandung dari jumlah Wanita Usia Subur (WUS) terdapat 4011 akseptor peserta KB aktif, yang terdiri dari 840 peserta aktif pengguna IUD dan 3171 akseptor KB non IUD, yang menjadi reponden dalam penelitian ini yaitu akseptor IUD dan non IUD bulan September 2011 sampai dengan Desember 2011 sebanyak 182 orang pengguna IUD dan non IUD. Semua responden mengisi kuesioner yang telah disediakan.
Berdasarkan karakteristik akseptor IUD dan non IUD berdasarkan umur dalam penggunaan AKDR dapat diketahui bahwa responden dalam penelitian ini masuk kedalam kelompok umur 20 sampai 35 tahun sebanyak 42 (46,2%) untuk pangguna akseptor IUD, sedangkan untuk akseptor non IUD masuk kedalam kategori umur kurang dari 20 tahun sebanyak 52 (57,14%). Hal ini sesuai dengan teori tentang penggunaan IUD dimana efektifitas dalam penggunaan IUD bergabtung  pada umur, dan paritas yaitu semakin tua usia, makin rendah pula angka kehamilan, ekspulsi dan pengangkatan atau pengeluaran IUD. Maka dapat disimpulkan rendahnya penggunaan IUD di Wilayah Kerja Puskesmas Ibrahim Adjie Kota Bandung salah satunya adalah masih banyaknya akseptor KB suntik  yaitu sebesar 235 peserta yang berusia ≤ 20 tahun atau lebih namun memiliki anak lebih dari 2 anak. Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional tahun 2007, persentase wanita berumur 17 tahun keatas yang pernah kawin dengan jumlah anak yang dilahirkan hidup terbesar adalah 2 orang (23,02%), 1orang (19,52%) dan 3 orang (17,11%).
Dari hasil survei penelitian, pada akseptor non IUD pun masih banyak yang berumur lebih dari 35 tahun namun masih banyak yang menggunakan kontrasepsi jenis suntik dan pil. Hal ini dikarenakan karena ketakutan mereka jika menggunakan IUD bisa mengganggu aktivitas mereka, serta masih terdapat beberapa responden yang masih percaya atau masih kental dengan budaya setempat dan terdapat pula keyakinan dari keluarga sebelumnya yang sudah menggunakan IUD yang membuat ketidak nyamanan bagi diri mereka sehingga responden memiliki rasa ketakutan tersendiri untuk menggunakannya.
Karakteristik akseptor IUD dan Non IUD berdasarkan paritas dalam penggunaan AKDR berdasarkan dapat diketahui bahwa responden dalam penelitian ini pada akseptor IUD memiliki jumlah paritas lebih dari 2 anak sebanyak 83 (91,2%), sedangkan untuk akseptor non IUD masuk kedalam kelompok jumlah paritas kurang dari 2 anak sebanyak 52 (57,1%). Penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan pada tahun 2004 di kota semarang, dimana dalam penelitian tersebut paritas mempunyai hubungan yang bermakna dengan dengan penggunaan IUD. Sesuai pula dengan penelitian  Sukmawati pada tahun 2001 yang menyatakan adanya hubungan antara jumlah anak dengan penggunaan kontrasepsi IUD. Demikian pula pada penelitian Syamsiah pada tahun 2002, yang menyatakan bahwa akseptor yang memiliki anak lebih dari 2 mempunyai peluang untuk menggunakan IUD 2,84 kali dibandingkan akspetor yang memiliki anak sedikit.
Berdasarkan pengetahuan akseptor IUD dan Non IUD dalam penggunaan AKDR dapat dilihat bahwa akseptor IUD terdapat 42 (46,7%) orang masuk kedalam kategori berpengetahuan baik, 41 (44,4%) masuk kedalam kategori berpengetahuan cukup dan 8 (8,9%) responden masuk kedalam kategori berpengetahuan kurang. Sedangkan untuk akseptor non IUD terdapat 41 (44,4%) responden masuk kedalam kategori berpengetahuan cukup, 26 (28,6%) responden berpengetahuan kurang dan 24 (26,4%) responden berpengetahuan baik. Masih terdapat 8 (8,9%) repsonden masuk kedalam kategori berpengetahuan kurang tetapi mereka menggunakan IUD, hal ini dikarenakan karena mereka tidak memiliki pengetahuan yang baik atau cukup mengenai IUD tetapi dukungan suami mereka yang sangat berperan sehingga mendorong mereka untuk menggunakan IUD, selain itu juga karena faktor usia mereka yang sudah di atas 35 tahun memiliki lebih dari 2 anak sehingga mendorong mereka untuk berkeinginan menggunakan IUD, dan terdapat pula beberapa responden yang enggan menggunakan IUD namun karena dukungan dan dorongan bidan sehingga mereka memilih IUD sebagai pilihan penggunaan alat kontrasepsi.
Dukungan suami pada akseptor IUD dan Non IUD dalam penggunaan AKDR untuk mengambil sebuah keputusan mencari pelayanan kesehatan merupakan hasil jaringan interaksi yang kompleks. Menemukan proses pengambilan keputusan dan pola komunikasi yang relevan bukanlah masalah yang sederhana. Berdasarkan Dukungan suami pada akseptor IUD dan Non IUD dalam penggunaan AKDR dapat dilihat untuk pengguna akseptor IUD terdapat 82 (90%) responden mendapat dukungan suami, serta terdapat 9 (10%) responden yang tidak memiliki dukungan suami. Sedangkan untuk akseptor Non IUD terdapat 54 (59,3%) responden yang mendapat dukungan suami dan 37 (40,7%) responden yang tidak memiliki dukungan suami. Terdapat 9 (10%) responden yang tidak mendapatkan dukungan suami tetapi mereka menggunkan IUD, ini dikarenakan dukungan bidan yang mendorong beberapa responden untuk menggunakan IUD karena kondisi kesehatan reponden yang tidak cocok untuk menggunakan kontrasepsi jenis lain. Peran dan konseling bidan sangat berperan penting pada saat pemilihan kontrasepsi, pada awalnya masih  terdapat suami yang tidak mengijinkan istrinya untuk menggunakan IUD namun pada akhirnya suami pun menerima setelah diberi penjelasan oleh bidan.
Pada pengguna akseptor non IUD dapat dilihat masih terdapat 54 (59,3%) responden yang mendapat dukungan suami tetapi mereka tidak menggunakan IUD, ini dikarenakan masih terdapat beberapa responden yang ingin menggunkan IUD namun karena kondisi medis sehingga responden memutuskan untuk tidak menggunakan IUD, serta terdapat beberapa responden yang ingin menggunakan IUD namun karena saran dari bidan untuk tidak menggunakan IUD sehingga membuat responden mengikuti perintah bidan seperti  jumlah anak yang kurang dari 2 atau responden masi ingin memiliki anak dalam jarak waktu yang tidak lama merupakan faktor utamanya. Dari hasil penelitian ini menunjukan bahwa sebagian besar suami akan mendukung istri dalam memilih kontrasepsi untuk memilih IUD. Hal ini menunjukan bahwa suami ikut berperan dalam mendukung program keluarga berencana. Suami mulai menyadari bahwa program keluarga berencana merupakan wahana untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan keluarga. Oleh karena itu, sangat baik jika suami selalu mendukung istri dalam menggunakan metode kontrasepsi serta diikutsertakan dalam setiap penyuluhan mengenai KB.
Berdasarkan dukungan bidan pada akseptor IUD dan Non IUD dalam penggunaan AKDR dapat dilihat untuk akseptor IUD terdapat 86 (94,4%) responden yang mendapat dukungan bidan, dan 5 (5,6%) responden yang tidak mendapat dukungan bidan, sedangkan untuk akseptor Non IUD terdapat 62 (68,1%) responden yang mendapat dukungan bidan, dan 29 (31,9%) responden yang tidak mendapat dukungan bidan. Petugas kesehatan sangat berpengaruh terhadap pemakaian alat kontrasepsi, petugas kesehatan berperan dalam memberikan informasi pelayanan, informasi, penyuluhan, dan menjelaskan tentang alat kontrasepsi. Petugas kesehatan sangat banyak berperan dalam tahap akhir pemilihan dan pemakaian alat kontrasepsi. Calon akseptor yang masih ragu-ragu dalam pemakaian alat kontrasepsi akhirnya memutuskan untuk memakai alat kontrasepsi setelah mendapat dorongan dari petugas kesehatan. Petugas kesehatan merupakan pihak yang mengambil peran dalam tahap akhir proses pemilihan dan pemakaian kontrasepsi.

5.5 Kesimpulan
Pengetahuan pada akseptor IUD tergelong dalam kelompok berpengetahuan baik, sedangkan untuk akspetor non IUD tergolong dalam kategori berpengetahuan cukup. Semakin baik pengetahuan semkin berpeluang pula akseptor untuk menggunakan IUD. Dukungan suami pada akseptor IUD terdapat 82 (90%) yang mendapat dukungan suami, sedangkan pada akseptor non IUD terdapat 54 (59,3%) responden yang mendapat dukungan suami. Semakin besar dukungan suami, semakin besar pula peluang akseptor untuk menggunakan IUD dibandingkan dengan akseptor yang tidak mendapatkan dukungan suami. Dukungan bidan  pada akseptor IUD terdapat 86 (94,4%) yang mendapat dukungan bidan, sedangkan pada akseptor non IUD terdapat 62 (68,1%) responden yang mendapat dukungan bidan. Semakin besar dukungan bidan, semakin besar pula peluang akseptor untuk menggunakan IUD dibandingkan dengan akseptor yang tidak mendapatkan dukungan bidan.

6.6 Saran
Perlunya peningkatan pengetahuan tentang IUD bagi pasangan usia subur, yang dilakukan melalui pemberian informasi secara lengkap tentang IUD pada saat kunjungan ulang, perlunya membangun informasi positif tentang IUD yang dapat dilakukan dengan melibatkan petugas kesehatan khususnya bidan melalui kegiatan penyuluhan dan penyebaran informasi tentang keberhasilan pemakaian IUD, perlunya membangun kesadaran kepada pasangan usia subur bahwa pemanfaatan alat kontrasepsi jangka panjang seperti IUD merupakan kebutuhan dan alternatif berkontrassepsi yang aman, perlunya peningkatan kesadaran dan komitmen dari petugas pemberi pelayanan kesehatan agar senantiasa memotivasi calon akseptor IUD untuk memanfaatkan IUD sebagai salah satu pilihan kontrassepsi.

Daftar Pustaka
Anggraeni Y, Martini. Pelayanan keluarga berencana. Yogyakarta : Rohima Press; 2012. p. 19, 23, 155-80, 180-2
Hanafi Hartono. Keluarga berencana dan kontrasepsi. Jakarta : Sinar Harapan; 2010. p. 26, 203-31,
BKKBN. Upaya Peningkatan Kontrasepsi IUD di Jawa Barat Bandung. 2011
UPT Puskesmas Ibrahim Adji Kota Bandung Tahun 2011
Puskesmas Puter Kota Bandung. Hasil cakupan pelayanan KB tahun 2011
Puskesmas Padasuka Kota Bandung. Hasil cakupan pelayanan KB tahun 2011
Saifudin AB. Buku panduan praktis pelayanan kontrasepsi. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo; 2003. p. U7-11, U21-5, MK72-7
Sharon J. Keperawatan maternitas kesehatan wanita bayi dan keluarga Vol-1. Jakarta : EGC; 2011 p. 222
Notoatmodjo S. Pendidikan dan perilaku masyarakat. Jakarta: Rineka Cipta;  2008. p. 26, 50-1
Notoatmodjo S. Promosi kesehatan dan ilmu prilaku. Jakarta: Rineka Cipta; 2007. p.139-42
Suryani E, Widiyasih H. Psikologi ibu dan anak. Yogyakarta : Fitramaya; 2008. p. 25
Notoatmodjo S. Ilmu kesehatan masyarakat. Jakarta : Rineka Cipta; 2007. p. 20-9
Estiwidani D. Konsep kebidanan. Yogyakarta: Fitramaya; 2008. p. 60-1
Alwi H dan tim. Kamus besar bahasa Indonesia. 3rd ed. Jakarta: Balai Pustaka; 2007. Pengetahuan; p. 1121
Leon S. Pedoman klinis kontrasepsi. Jakarta : EGC; 2006.
Medforth J. Kebidanan Oxford dari bidan untuk bidan (Wuri praptiani, editor Bahasa Indonesia). Jakarta : EGC; 2011. p. 501-26
Manuaba. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC; 2005.
Varney H. Buku ajar asuhan kebidanan Edisi4. Jakarta : EGC; 2006. p. 450-61
Cunningham F. Obstetric Williams Vol 2. Jakarta: EGC; 2008. p. 1717-23
Notoatmodjo S. Metodelogi penelitian kesehatan. Jakarta: PT. Asdi Mahasatya; 2010. p. 35, 174-6
Sulistyaningsih. Metodologi penelitian kebidanan : kuantitatif-kualitatif. Yogyakarta : Graha ilmu; 2011. p. 64-6,
Arikunto S. Prosedur penelitian suatu pendekatan praktek. Jakarta: Rineka Cipta; 2007. p. 338-44
Budiarto E. Metodologi penelitian kedokteran : sebuah pengantar. Jakarta : EGC; 2003.
Hidayat AA. Metode penelitian kebidanan dan teknik analisa data. Jakarta : Salemba Medika; 2007. p. 103-23
Alimul A. Metode penelitian kebidanan dan teknik analisa data. Jakarta: Salemba Medika; 2010. p. 86
Azwar S. Validitas dan reliabilitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar; 2007. p. 44-6
Ridwan. Dasar-dasar statistika. Bandung: Alfabeta; 2008. p. 38-9, 42-3
BKKBN. Kebijakan teknis penanggulangan masalah kesehatan reproduksi melalui program KB nasional. Jakarta, 2011