Ketua Dewan Redaksi
Dr. Farid, dr., Ir., SpOG(K), M.Kes., M.H.Kes.

Dewan Redaksi
- Prof. Hidayat Wijayanegara, dr., SpOG(K)
- Prof. Dr. Undang Santosa, Ir., M.S.
- Dr. Anita Deborah Anwar, dr., SpOG(K)
- Achmad Suardi, dr., SpOG(K), S.H., M.H.
- Ma'mun Sutisna, Drs., S.Sos., M.Pd.

Alamat Redaksi
Akademi Kebidanan Medika Obgin
Jl. P.H.H. Mustofa no.58 Bandung
Tel. / Fax. : 022-7200035 
e-mail : redaksi@jurnalpendidikanbidan.com
Facebook MySpace Twitter Google Bookmarks 

MO-KTI-1401-2013


Kejadian Perdarahan Postpartum Ibu Bersalin Berdasarkan
Karakteristik Dan Penyebab Di RSUD Kota Bandung Tahun 2011
Mu’minatunnisa M, Santosa U, Sumarni I

Program Diploma III Akademi Kebidanan Medika Obgin Bandung

Abstrak
Salah satu penyebab kematian ibu adalah perdarahan postpartum. Faktor penyebab langsung kematian ibu di Indonesia masih didominasi oleh perdarahan, eklamsia, dan infeksi, sedangkan faktor tidak langsung penyebab kematian ibu karena masih banyaknya kasus 3 terlambat dan 4 terlalu. Tujuan penelitian untuk mengetahui angka kejadian perdarahan postpartum serta penyebabnya, berdasarkan umur, paritas, dan pendidikan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Hasil penelitian seluruh  dari jumlah ibu bersalin 3429 angka kejadian yang mengalami perdarahan postpartum 8,8%, penyebabnya yaitu retensio plasenta 51%. Kejadian perdarahan postpartum ditemukan paling banyak pada umur >35 tahun ( 14,0%), paritas 2-3 (51,5%), tingkat pendidikan sekolah dasar (14,5%).


Kata kunci: Karakteristik Ibu Bersalin, Perdarahan Postpartum.

1.    Pendahuluan
World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa jumlah perempuan yang meninggal akibat dari komplikasi selama kehamilan dan persalinan mengalami penurunan sebesar 34% dari 546.000 di tahun 1990 – 2008 menjadi 358.000. Para   petugas Organisasi Kesehatan Dunia dan menteri kesehatan telah melakukan pembahasan khusus tentang angka kematian ibu di kawasan Asia Tenggara yang masih tinggi. WHO menyebutkan bahwa kematian ibu di kawasan Asia Tenggara menyumbang hampir sepertiga jumlah kematian ibu dan anak secara  global. Menurut World Health Organization (WHO) perdarahan menempati persentase tertinggi penyebab kematian ibu (28 %), preeklamsi/eklampsi (24%) infeksi (11%), sedangkan penyebab tidak langsung adalah trauma obstetri 5% dan lain-lain (11%). Anemia dan Kekurangan Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil menjadi penyebab utama terjadinya perdarahan dan infeksi yang merupakan faktor kematian utama ibu. Di berbagai negara paling sedikit seperempat dari seluruh kematian ibu disebabkan oleh perdarahan, proporsinya berkisar antara kurang dari 10 % sampai hampir 60 %.
Angka Kematian Ibu (AKI) di negara maju adalah 9 per 100.000 kelahiran hidup dan di negara berkembang mencapai 450 per 100.000 kelahiran hidup dan900 di Sub-Sahara Afrika. Pada tahun 2005 hanya 20% negara-negara ASEAN yaitu Brunei Darussalam dan Singapura yang mencapai AKI <15 masing-masing 13 dan 14 per 100.000 kelahiran hidup. Negara-negara dengan AKI > 500 di Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) pun mencapai 20%, yaitu Laos 660 per 100.000 kelahiran hidup dan kamboja 540 per kelahiran hidup. Pada tahun yang sama, negara-negara di South-East Asia Region (SEAR) tidak ada yang mencapai AKI <15, termasuk Indonesia memiliki AKI 200-499 per 100.000 kelahiran hidup, dan 18% memiliki AKI >5000, yaitu Nepal (830) dan Bangladesh (570). Diantara kedua kawasan tersebut, Indonesia berada di peringkat ke-12 (dari 18 negara di ASEAN dan SEAR) untuk AKI yang terendah yaitu 420 per 100.000 kelahiran hidup. Pada tahun 1988 kematian ibu  di Indonesia diperkirakan 450 per 100.000 kelahiran hidup(dari Simposium Nasional Kesejahteraan Ibu pada tanggal 29 Juni 1988). Perdarahan postpartum merupakan penyebab penting di negara berkembang.. Faktor-faktor yang menyebabkan perdarahan postpartum adalah grandemultipara, jarak persalinan kurang dari 2 tahun, persalinan dengan tindakan seperti pertolongan kala III sebelum waktunya, pertolongan persalinan oleh dukun, persalinan dengan tindakan paksa. Terjadinya kematian ibu terkait dengan faktor penyebab langsung dan penyebab tidak langsung. Faktor penyebab langsung kematian ibu di Indonesia masih didominasi oleh perdarahan, eklampsia, dan infeksi. Faktor tidak langsung penyebab kematian ibu karena masih banyaknya kasus 3 terlambat dan 4 terlalu (terlalu tua, terlalu muda, terlalu banyak, terlalu sering/dekat), yang terkait dengan faktor akses, sosial budaya, pendidikan, dan ekonomi. Kasus 3 Terlambat meliputi, terlambat mengenali tanda bahaya persalinan, mengambil keputusan, dan terlambat merujuk serta terlambat ditangani oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. Tahun 2010 di RSUD Kota Bandung dari 3204 persalinan terdapat 109 kasus perdarahan postpartum (3,4%). Data kematian ibu yang tercatat di rekam medik dari 17 kematian ibu postpartum sebesar 47,0%. Tahun 2011 meningkat dari 3.429 persalinan normal maupun tindakan terdapat 301 kejadian perdarahan postpartum (8,8%) di RSUD Kota Bandung disebabkan oleh retensio plasenta, sisa plasenta, robekan jalan lahir, dan atonia uteri.


2.2 Tinjauan Pustaka
Pada penelitian ini Karakteristik ibu dengan perdarahan postpartum dilihat dari faktor usia. Dalam kurun reproduksi sehat dikenal bahwa usia aman untuk kehamilan dan persalinan adalah 20-30 tahun. Kematian ibu pada wanita hamil dan melahirkan pada usia di bawah 20 tahun  2 sampai 5 kali lebih tinggi dari pada kematian maternal yang terjadi pada usia 20 sampai 29 tahun. Kematian  maternal meningkat kembali sesudah usia 30 sampai 35 tahun. Usia seorang wanita pada saat hamil sebaiknya tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua. Umur yang kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun, berisiko tinggi untuk melahirkan. Kesiapan  seorang perempuan untuk hamil harus siap fisik, emosi, psikologi, sosial dan ekonomi. Hal ini dikarenakan pada usia dibawah 20 tahun fungsi reproduksi seorang wanita belum berkembang dengan sempurna, sedangkan pada usia diatas 35 tahun fungsi reproduksi seorang wanita sudah mengalami penurunan dibandingkan fungsi normal sehingga meningkatkan kejadian perdarahan postpartum.
Serta dilihat dari karakteristik paritas  dibedakan menjadi primipara, multipara dan grandemultipara. Serta dilihat dari karakteristik pendidikan menurut Depkes RI,1996, apabila status pendidikannya rendah, maka akan berpengaruh padaperilaku kesehatanya. sebaliknya apabila seseorang mempunyai status pendidikan yang tinggi berpengaruh juga terhadap perilaku kesehatannya.Pada ibu yang mempunyai status pendidikan tinggi pada umumnya mau menerima hal – hal baru dan mau menerima perubahan guna memelihara kesehatannya. Perdarahan yang terjadi dalam 24 jam pertama perdarahan postpartum disebut perdarahan postpartum dini sementara perdarahan setelah 24 jam perdarahan postpartum lambat. Perdarahan postpartum adalah perdarahan lebih dari 500-600 ml selama 24 jam setelah anak lahir. Termasuk perdarahan karena retensio plasenta. Perdarahan postpartum adalah hilangnya darah lebih dari 500 ml dalam 24 jam pertama setelah lahirnya bayi, biasanya kehilangan darah lebih dari 500 ml selama atau setelah kelahiran. Pritchard menjelaskan bahwa rata-rata kehilangan darah dengan persalinan pervaginam 500 mL atau 1000 mL atau lebih setelah persalinan sesar. Penyebab atonia yang yang terjadi disebabkan oleh overdistention uterus seperti: gemeli, makrosomia, polihidramnion, atau paritas tinggi, umur yang terlalu muda atau terlalu tua, multipara dengan jarak keahiran pendek, partus lama, malnutrisi, dapat juga karena salah penanganan dalam kala III. Bila plasenta belum lepas sama sekali tidak akan terjadi perdarahan, tapi bila sebagian plasenta sudah lepas akan terjadi perdarahn dan merupakan indikasi untuk segera mengeluarkannya. Saat sebagian sisa plasenta tertinggal maka uterus tidak dapat berkontrkasi secara efektif dan dapat menimbulkan perdarahan. Perdarahan postpartum yang terjadi segera di sebabkan oleh retensi sisa selaput plasenta. Robekan jalan lahir selalu memberikan perdarahn dalam jumlah yang bervariasi banyaknya. Perdarahan yang berasal dari jalan lahir selalu dievaluasi dari sumber dan jumlah perdarahan sehingga dapat diatasi. Sumber perdarahan dapat berasal dari perineum, vagina, serviks, dan robekan uterus (ruptur uteri).

3.3 Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Dalam penelitian ini mengambil seluruh ibu bersalin secara normal maupun tindakan yang tercatat di register bagian kebidanan  ruang bersalin Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bandung periode  tahun 2011, dengan semua populasi ibu bersalin 3.429. Sampel dalam penelitian ini adalah total sampling yang mengalami perdarahan postpartum. Data yang diambil adalah data sekunder yang di peroleh dari laporan persalinan di ruang bersalin dan bagian rekam medik RSUD Kota Bandung  tahun 2011. Pengumpulan data dilakukan dengan cara mengambil data ibu yang mengalami perdarahan post partum dengan menggunakan daftar isian sesuai dengan variabel kejadian perdarahan post partum, berdasarkan umur, paritas, pendidikan, dan penyebab kejadian perdarahan postpartum.

4.4 Hasil Penelitian
Berdasarkan data yang dikumpulkan dari bagian rekam medik Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bandung periode tahun 2011 diperoleh data jumlah persalinan sebanyak 3429 dengan kejadian perdarahan sebanyak 301 kasus (8,8%). Angka kejadian lebih tinggi dibandingkan dari jumlah perdarahan post partum tahun 2010 dari 3204 (3,1%) mengalami perdarahan.
Dilihat dari kejadian perdarahan berdasarkan usia ibu, proprosi kejadian perdarahan paling tinggi terjadi pada usia >35 tahun, yaitu 14%. Pada penelitan Najah menyatakan bahwa pada usia ibu di atas 35 tahun faktor yang memengaruhi perdarahan postpartum, sedangkan menurut penelitian Pardosi (2005), bahwa ibu yang berumur di bawah 20 tahun atau di atas 35 tahun memiliki risiko mengalami perdarahan postpartum.
Perdarahan paling tinggi terjadi pada kelompok paritas 2-3, yaitu 51,5%. Data di atas menunjukkan bahwa pada persalinan anak kedua dan ketiga memiliki risiko yang sangat tinggi untuk mengalami perdarahan. Artinya semakin banyak jumlah persalinan, risiko ibu mengalami perdarahan semakin tinggi. Hal ini kemungkinan disebabkan karena di negara maju jarang di dapatkan wanita yang hamil dengan usia lanjut dan paritas tinggi, sedangkan di Indonesia masih banyak yang hamil dengan usia yang lanjut dan paritas tinggi, hal ini akan menambah kejadian perdarahan post partum.
Kejadian perdarahan paling tinggi terjadi pada ibu yang  berpendidikan 0-6 Tahun, yaitu 14,5%. Menurut Depkes RI 1996 apabila status pendidikannya rendah, maka akan berpengaruh padaperilaku kesehatanya. sebaliknya apabila seseorang mempunyai status pendidikan yang tinggi berpengaruh juga terhadap perilaku kesehatannya. Tingginya angka kejadian post partum disebabkan karena tingkat pendidikannya yang rendah berpengaruh terhadap prilaku  serta pengetahuan ibu yang kurang. Dari 301 persalinan yang mengalami perdarahan, paling banyak diantaranya disebabkan oleh retensio plasenta, yaitu sebanyak 155 persalinan atau  sebesar 51,5% dari total kejadian perdarahan. Hasil penelitian ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh  Soufyan dan Wawang  yang mendapatkan kejadian retensio plasenta paling banyak pada paritas ≥ 4 sebesar 25,5%, sedangkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Santoso  kejadian retensio plasenta paling banyak pada paritas 6 sebesar 6,85%. Sesuai dengan teori bahwa kejadian retensio plasenta lebih tinggi pada grandemultipara. Hal ini di hubungkan dengan kontraksi dari rahim yang kurang bagus karena dinding uterus yang sangat teregang dan banyak parutan bekas implantasi plasenta pada persalinan sebelumnya.

5.5 Kesimpulan
Pada hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa : angka kejadian perdarahan postpartum di RSUD Kota Bandung tahun 2011 yaitu sebesar 8,8%, angka kejadian perdarahan postpartum berdasarkan umur paling banyak pada usia >35 (14,0%), angka kejadian perdarahan postpartum berdasarkan terjadi pada paritas  2-3  (51,5%), angka kejadian perdarahan postpartum terjadi pada ibu pendidikan SD (14,5%), penyebab perdarahan postpartum yang paling banyak adalah retensio plasenta (51,5%).

6.6 Saran
Agar dilakukan penelitian lebih lanjut untuk lebih mengetahui kejadian perdarahan postpartum. Bagi bidan diharapkan dapat mendeteksi secara dini adanya komplikasi kehamilan terutama pada ibu-ibu dengan faktor risiko terjadinya perdarahan postpartum serta menganjurkan ibu hamil terutama ibu dengan faktor risiko untuk melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin minimal sebanyak 4 kali selama kehamilan untuk deteksi dini komplikasi pada saat kehamilan dan pada saat persalinan.

Daftar Pustaka
Knneth JL et al. Obstetri Williams. 21th Ed. Jakarta: EGC; 2009.
Saifuddin AB, rachimhadhi T, Wiknjosastro GH. Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiro Hardjo; 2009.
Dinas kesehatan Jawa Barat. Lampiran Tabel Profil Kesehatan Jawa Barat 2007. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat. Bandung. Dinas Kesehatan Jawa Barat. 2008.http//:www.depkes.go.id/download/pdf. Di akses tanggal 05 mei 2012
Manuaba IBG. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan Dan Kelurga Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC; 2008. p 295-312.
World Health Organization. WHO guidlines for the management of postpartum haemorraghe and retained placenta. Prancis; 2009.
Soeroso A. Sosiologi 2. Quadra. 2008
Saifudin AB, Wiknjosastro GH, Affandi B, Waspodo, D.Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal. Normal. Jakarta: Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiro Hardjo;   2008
Sulistiyani CN. Jurnal Hubungan Antara Paritas Dan Umur Ibu Dengan Kejadian Perdarahan Postpartum Di Rs. Panti Wilasa Dr. Cipto Yakum Cabang Semarang. Semarang; 2010.
Lhea L. Cahpper II. [online]. http://www.scribe.com/doc86210652/Chapter-II. Diakses tanggal 10 Mei 2012. 
Suparyanto. Konsep Paritas atau Partus. [online]. diakses tanggal 23 juni 2012. URL:http://dr-suparyanto.com/2010/10/konsep-paritas partus.html.
Maulana HDJ. Promosi Kesehatan. Jakarta: EGC. 2007
Schuurmans N. Prevention and Management of Postpartum Haemorrahge. Prev and Manag of PPH [serial online] 2010 Apr [diakses tanggal 20 juli 2012].
Thapa K, Malla B, Pandey, Amatya S. Intrauterine Condom Tamponade in Management of Postpartum Haemorrhage [serial online] 2010 Apr 2010 [diakses tanggal 20 Juli 2010].
Hakimi. Ilmu Kebidanan : Patologi & Fisiologi Persalinan. Yogyakarta : YEM. 2010.
Wiknjosastro H. Paket Pelatihan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiro Hardjo;   2008.
Pendidikan Indonesia. Kementerian pendidikan Nasional Republik Indonesia. Di akses tanggal 23 juni 2012. http://ww.kemdiknas.go.id
Chandra B. Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta: EGC. 2008
Soufyan F, Suakarya S.W. Evaluasi Kasus-Kasus Rujukan Retensio Plasenta Kumpulan Makalah Ilmiah Pertemuan Tahunan Perkumpulan POGI VII. Bandung: FKUP RSHS; 1991