Ketua Dewan Redaksi
Dr. Farid, dr., Ir., SpOG(K), M.Kes., M.H.Kes.

Dewan Redaksi
- Prof. Hidayat Wijayanegara, dr., SpOG(K)
- Prof. Dr. Undang Santosa, Ir., M.S.
- Dr. Anita Deborah Anwar, dr., SpOG(K)
- Achmad Suardi, dr., SpOG(K), S.H., M.H.
- Ma'mun Sutisna, Drs., S.Sos., M.Pd.

Alamat Redaksi
Akademi Kebidanan Medika Obgin
Jl. P.H.H. Mustofa no.58 Bandung
Tel. / Fax. : 022-7200035 
e-mail : redaksi@jurnalpendidikanbidan.com
Facebook MySpace Twitter Google Bookmarks 

MO-KTI-0712-2012
Gambaran Karakteristik dan Pengetahuan Ibu yang Mempengaruhi Pemberian Makanan Pendamping ASI

Terlalu Dini di Desa Ciborelang Kecamatan Jatiwangi Kabupaten Majalengka
Kardiani R, Santosa U, Susanti I

Program Studi Diploma III Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran



Abstrak
Makanan pendamping ASI diberikan untuk memenuhi kebutuhan zat gizi selain dari ASI. Karakteristik dan tingkat pengetahuan dapat mempengaruhi pemberian makanan pendamping ASI. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran karakteristik dan pengetahuan ibu yang mempengaruhi pemberian makanan pendamping asi terlalu dini di Desa Ciborelang Kecamatan Jatiwangi Kabupaten Majalengka. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan jenis penelitian deskriptif pendekatan Cross Sectional, menggunakan data primer berdasarkan pengisian kuesioner dan pengolahan data yang disajikan dalam tabel. Hasil penelitian diperoleh berdasarkan karakteristik ibu yang memberikan MP-ASI terlalu dini dapat diketahui bahwa responden yang berusia <20 tahun memiliki pengetahuan kurang 66% (19 orang).Responden dengan paritas 1 memiliki pengetahuan kurang sebesar 64% (18 orang). Responden yang lama pendidikannya 0-6  tahun memiliki pengetahuan kurang 58% (18 orang). Responden yang tidak bekerja memiliki pengetahuan kurang sebesar 69% (9 orang).

Kata Kunci  : Karakteristik, Pengetahuan, Makanan Pendamping ASI

1.    Pendahuluan
Gizi memegang peranan penting dalam siklus hidup manusia. Kekurangan gizi pada ibu hamil dapat menyebabkan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) dan dapat pula menyebabkan penurunan tingkat kecerdasan. Pada  bayi dan anak, kekurangan gizi akan menimbulkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang apabila tidak diatasi secara dini dapat berlanjut hingga dewasa. Usia 0-24 bulan merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan yang pesat, sehingga kerap diistilahkan sebagai periode emas sekaligus periode kritis. Periode emas dapat diwujudkan apabila pada masa ini bayi dan anak memperoleh asupan gizi yang sesuai untuk tumbuh kembang optimal.  Untuk mencapai tumbuh kembang optimal, maka Global Strategy for Infant and Young Child Feeding, WHO/UNICEF merekomendasikan empat hal penting yang harus dilakukan yaitu, pertama memberikan air susu ibu kepada bayi segera dalam waktu 30 menit setelah bayi lahir, kedua memberikan hanya air susu ibu (ASI) saja atau pemberian ASI secara eksklusif sejak lahir sampai bayi berusia 6 bulan, ketiga memberi kan makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) sejak bayi berusia 6 bulan sampai 24 bulan dan keempat  meneruskan pemberian ASI sampai anak berusia 24 bulan atau lebih.
Menurut hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2006-2007, data jumlah pemberian ASI eksklusif pada bayi di bawah usia dua bulan hanya mencakup 67% dari total bayi yang ada. Persentase tersebut menurun seiring dengan bertambahnya usia bayi, yakni, 54% pada bayi usia 2-3 bulan dan 19% pada bayi usia 7-9. Lebih memprihatinkan, 13% bayi di bawah dua bulan telah diberi susu formula dan satu dari tiga bayi usia 2-3 bulan telah diberi makanan tambahan. Berdasarkan survei Dinkes tahun 2007 data jumlah total 934.297 bayi yang diberikan ASI eksklusif yaitu sebanyak 502.174 (53,75%). Kabupaten Majalengka adalah salah satu Kabupaten di Jawa Barat yang memiliki jumlah bayi sebanyak 26.226. Bayi yang diberi ASI eksklusif sebanyak 6.639 atau sebesar 25,31% dari jumlah total bayi. Berdasarkan data di Desa Ciborelang yang menjadi salah satu Desa di Kabupaten Majalengka, jumlah penduduk pada bulan April tahun 2011 sebanyak 9782 orang, dengan jumlah neonatal I (0-28 hari) sebanyak 6 bayi, bayi berusia 0-6 bulan sebanyak 65 bayi, sedangkan jumlah bayi yang berusia 1-11 bulan sebanyak 127, balita berusia 12-23 bulan sebanyak 125 dan balita berusia 24-59 bulan sebanyak 433.

2.2    Tinjauan Pustaka

Menurut Huclok (1998) semakin cukup umur, maka tingkatan kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Paritas adalah jumlah persalinan. Pengelompokkan paritas dibagi menurut jumlah kelahiran,  terdapat 3 kelompok yaitu : nulipara, primipara, multipara. Pendidikan diperlukan untuk mendapat informasi misalnya hal-hal yang menunjang kesehatan sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup. Pekerjaan berhubungan dengan bekerja.Seiring kemajuan teknologi, banyak wanita khususnya ibu rumah tangga yang menjalani profesi ganda sebagai wanita karir.Hal ini disebabkan karena adanya keinginan, harapan, dan kebutuhan.
Makanan pendamping ASI adalah makanan yang diberikan kepada bayi atau anak disamping ASI untuk kebutuhan gizinya. MP-ASI ini diberikan pada bayi berumur 6 bulan sampai 24 bulan, karena pada masa itu produksi ASI semakin menurun yang menyebabkan zat gizi dari ASI tidak lagi memenuhi kebutuhan gizi anak yang semakin meningkat sehingga pemberian dalam bentuk makanan pelengkap sangat dianjurkan. WHO mendefinisikan ASI eksklusif bila bayi hanya mendapatkan ASI tanpa tambahan makanan dan ataupun minuman lain, kecuali vitamin, mineral dan obat-obatan.Bayi yang mendapatkan ASI dan mendapatkan MP-ASI berupa cairan termasuk vitamin, mineral dan obat-obatan didefinisikan sebagai predominant breast-feeding, sedangkan bayi yang mendapatkan ASI dan mendapat MP-ASI berupa makanan padat, semi padat dan atau cairan termasuk vitamin, mineral dan obat-obatan di definisikan sebagai partial breast-feeding.
Jenis makanan pendamping ASI (MP-ASI) baik tekstur, frekuensi dan porsi makan harus disesuaikan dengan tahapan perkembangan dan pertumbuhan bayi dan anak usia 6-24 bulan. Kebutuhan energi dari makanan adalah sekitar 200 kkal per hari untuk bayi usia 6-8 bulan, 300 kkal perhari untuk bayi usia 9-11 bulan dan 550 kkal perhari untuk usia 12-23 bulan. MP-ASI pertama sebaiknya adalah golongan beras dan serealia, karena berdaya alergi rendah. Secara berangsur-angsur, diperkenalkan sayuran yang dikukus dan dihaluskan, buah yang dihaluskan, kecuali pisang dan alpukat matang dan yang harus diingat adalah jangan diberikan buah atau sayuran mentah. Setelah bayi dapat menerima beras atau sereal, sayuran dan buah dengan baik, berikan sumber protein (tahu, tempe, daging ayam, hati ayam dan daging sapi) yang dikukus dan dihaluskan. Setelah bayi mampu mengkoordinasikan lidahnya dengan lebih baik, secara bertahap bubur dibuat lebih kental, kemudian menjadi lebih kasar (disaring kemudian di cincang halus) lalu menjadi kasar (cincang kasar) dan akhirnya bayi siap menerima makanan yang dikonsumsi keluarga. Menyapih anak harus bertahap, dilakukan tidak secara tiba-tiba. Kurangi pemberian ASI sedikit demi sedikit.
Setelah usia 6 bulan, ASI hanya memenuhi sekitar 60-70% kebutuhan gizi bayi. Bayi mulai membutuhkan makanan pendamping ASI (MP-ASI). Pemberian makanan padat pertama ini harus memperhatikan kesiapan bayi, antara lain keterampilan motorik, keterampilan mengecap dan mengunyah serta penerimaan terhadap rasa dan bau. Untuk itu, pemberian makanan pertama perlu dilakukan secara bertahap. Misalnya, untuk melatih indera pengecapnya, berikan bubur susu satu rasa dahulu, baru kemudian dicoba dengan multirasa.

3.3 Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan Cross Sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang memiliki balita usia 0-6 bulan yang terdapat di Desa Ciborelang sebanyak 65 orang. Sampel dalam penelitian ini adalah ibu yang mempunyai balita usia 0-6 bulan. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah total sampling. Pada teknik ini seluruh subjek dipilih sebagai sampel. Metode pengumpulan data yang digunakan berasal dari data primer yang dikumpulkan melalui wawancara langsung dengan responden menggunakan kuesioner.

4.4 Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian dari 65 responden yang memberikan MP-ASI terlalu dini terbanyak pada usia < 20 tahun sebesar45%. Dapat dikatakan bahwa ibu menyusui di Desa Ciborelang berada bukan pada rentang reproduksi yang sehat untuk ibu menyusui. Dari segi psikologi perkembangan bahwa sekitar umur 20 tahun merupakan awal dewasa dan berlangsung sampai sekitar umur 45 tahun. Karakteristik berdasarkan pendidikan formal yang memberikan MP-ASI terlalu dini terbanyak adalah pada tingkat pendidikan 0-6 tahun sebesar 49%, dapat dikatakan pendidikan pada ibu menyusui di desa Ciborelang rendah. Pendidikan diperlukan untuk mendapat informasi misalnya hal-hal yang menunjang kesehatan sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup. Berdasarkan pekerjaan yang memberikan MP-ASI teralu dini terbanyak adalah pada ibu bekerja yaitu sebesar 80% (52 orang), hal ini dikarenakan mayoritas ibu yang bekerja adalah buruh pabrik sehingga ibu menyusui tidak memiliki akses untuk memberikan ASI eksklusif pada bayinya karena terbatas dengan waktu atau jadual bekerja.
Berdasarkan paritas yang memberikan MP-ASI terlalu dini terbanyak adalah pada jumlah paritas 1 sebesar 46% (30 orang). pemberian MP-ASI terlalu dini disebabkan kurangnya pengalaman pada ibu menyusui yang beranggapan bahwa bayinya tidak akan pernah kenyang jika hanya mengkonsumsi ASI saja. Gambaran pengetahuan ibu yang mempengaruhi pemberian makanan pendamping ASI terlalu dini di Desa Ciborelang Kecamatan Jatiwangi Kabupaten Majalengka terbanyak adalah kategori pengetahuan cukup sebesar 38% (25 orang), frekuensi paling sedikit adalah berpengetahuan baik, sebesar 25% (16 orang).Hal ini dapat disebabkan mayoritas responden masa pendidikan 0-6 tahun, sehingga akan lebih sulit dalam menerima pemahaman informasi dari tenaga kesehatan dan media lainnya.
Ditinjau dari faktor pengetahuan berdasarkan karakteristik usia dapat diketahui bahwa responden yang berusia <20 tahun memiliki pengetahuan kurang (66%), responden yang berusia 20-35 tahun berpengetahuan cukup (53%) dan responden berusia >35 tahun memiliki pengetahuan baik (53%). Responden yang berpengetahuan kurang adalah pada usia <20 tahun.Hal ini dikarenakan belum matangnya pengetahuan bersasarkan usia. Selain itu menurut Notoatmodjo, umur dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang, karena semakin tua seseorang maka pengetahuannya akan bertambah.
Ditinjau dari faktor pengetahuan berdasarkan karakteristik paritas dapat diketahui bahwa responden dengan paritas 1 memiliki pengetahuan kurang (64%) dan responden dengan paritas >3   memiliki pengetahuan baik (40%). Dalam penelitian ini, dapat dilihat bahwa ibu dengan paritas 1 memiliki pengetahuan kurang, hal ini karena ibu belum punya pengalaman dengan teknik perawatan bayi termasuk asupan nutrisi yang baik untuk bayi. Ibu merasa tidak cukup dalam pemberian ASI sehingga ibu merasa lebih baik memberikan makanan pendamping ASI daripada bayinya akan terus merasa lapar. Perbedaan jumlah paritas dapat mempengaruhi pandangan ibu dalam memberikan makanan pendamping ASI terhadap bayinya.
Ditinjau dari faktor pengetahuan berdasarkan pendidikan dapat diketahui bahwa responden yang memiliki pengetahuan kurang adalah yang pendidikannya 0-6 tahun sebesar 56%, yang berpendidikan >12 tahun memiliki pengetahuan baik sebesar 36%. Kurangnya pengetahuan responden terhadap pemberian MP- ASI sangatlah berkaitan dengan status pendidikannya, pendidikan adalah sebuah awal dari pemahaman akan suatu hal, termasuk pula tentang MP-ASI, lama pendidikan berperan penting dalam memperoleh informasi beserta pemahamannya. Rendahnya pendidikan ibu berpengaruh pada perilaku ibu dalam memberikan makanan pendamping ASI pada bayi. Dengan pendidikan ibu yang rendah memperlihatkan pola pikir masih sederhana, sebaliknya ibu yang berpendidikan lebih tinggi memiliki pola pikir yang lebih matang.

5.5 Kesimpulan
Dari hasil penelitian berdasarkan analisis dan pembahasan faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian MP-ASI terlalu dini di Desa Ciborelang Kecamatan Jatiwangi Kabupaten Majalengka dapat disimpulkan : responden yang memberikan MP-ASI terlalu dini berdasarkan usia, terbesar adalah pada usia<20 tahun, lama pendidikan 0-6 tahun, bekerja sebesar 80%  dan paritas 1. Demikian pula dari faktor pengetahuan berdasarkan karakteristik mengenai faktor-faktor pemberian MP-ASI terlalu dini  dapat diketahui bahwa responden yang berusia <20 tahun memiliki pengetahuan kurang juga pada paritas 1dan lama pendidikannya 0-6 tahun.

6.6 Saran
Berdasarkan hasil penelitian maka saran yang penulis sampaikan adalah, diharapkan bidan desa dapat memberikan penyuluhan maupun konseling mengenai makanan pendamping ASI baik diwilayah puskesmas maupun posyandu.

Daftar Pustaka
Depkes RI. Pedoman Umum Pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) lokal Tahun 2006. Jakarta : Direktorat Jendral Bina Kesehatan Masyarakat. 2006.
WHO. Pemberian makanan tambahan, alih bahasa. Jakarta: EGC. 1993.
Syah M. Psikologi pendidikan dengan pendekatan baru.  Bandung: remaja rosdakarya.
William S. The baby book. Jakarta : serambi, 2006
Notoatmodjo S. Promosi Kesehatan dan ilmu perilaku. Jakarta : Rineka Cipta. 2007.
Desmita. Psikologi perkembangan. Bandung: Remaja Rodakarya. 2006.
Syah M. Psikologi pendidikan dengan pendekatan baru. Bandung: Remaja Rosdakarya. 2006. 
Notoatmodjo, S. Pendidikan perilaku kesehatan cetakan I. 2003. Yogyakarta: Andi offset..
Wawan A, Dewi M. Teori & pengukuran pengetahuan, sikap, dan perilaku manusia. Yogyakarta: Nuha Medika. 2010.
Notoatmodjo S. Metodologi penelitan kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta, 2003.
Depkes RI. Pedoman Pelaksanaan Pendistribusian dan Pengelolaan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) Tahun 2004.. Jakarta : Diraktorat Jendral Gizi Masyarakat. 2004.
Depkes RI. Buku pedoman pemberian makanan pendampping ASI. Jakarta : Ditjen Bina Kesehatan Masyarakat dan Direktorat Bina Gizi Masyarakat. 2007.
Rohani. Pengaruh karakteristik ibu menyusui terhadap pemberian MP-ASI di wilayah kerja puskesmas teluk Kecamatan Secanggang Kabupaten langkat Tahun 2007. Skripsi, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatra Utara, Medan. 2007. 
Wawan A, Dewi M. Teori dan pengukuran pengetahuan, sikap dan perilaku manusia. Yogyakarta : Nuha Medika, 2010.
Slamet. Sosiologi kesehatan. Yogyakarta :Universitas Gajah Mada Press. 2004.