Ketua Dewan Redaksi
Dr. Farid, dr., Ir., SpOG(K), M.Kes., M.H.Kes.

Dewan Redaksi
- Prof. Hidayat Wijayanegara, dr., SpOG(K)
- Prof. Dr. Undang Santosa, Ir., M.S.
- Dr. Anita Deborah Anwar, dr., SpOG(K)
- Achmad Suardi, dr., SpOG(K), S.H., M.H.
- Ma'mun Sutisna, Drs., S.Sos., M.Pd.

Alamat Redaksi
Akademi Kebidanan Medika Obgin
Jl. P.H.H. Mustofa no.58 Bandung
Tel. / Fax. : 022-7200035 
e-mail : redaksi@jurnalpendidikanbidan.com
Facebook MySpace Twitter Google Bookmarks 

MO-KTI-0212-2012

PENGARUH PROGRAM JAMPERSAL TERHADAP PEMILIHAN TEMPAT DAN PENOLONG PERSALINAN DI DESA NAGRAK KECAMATAN CIATER KABUPATEN SUBANG


Oktaviani.N, Farid, Andriyani.K

Program Studi Diploma III Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Abstrak
Sebanyak 20% persalinan di Desa Nagrak Kabupaten Subang, masih ditolong dukun dan 45% persalinan dilakukan di rumah sebagaian besar karena alasan ekonomi. Jampersal dimaksudkan untuk menghilangkan hambatan finansial bagi ibu hamil untuk mendapatkan jaminan persalinan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah pengaruh program Jampersal terhadap pemilihan tempat dan penolong persalinan di Desa Nagrak Kecamatan Ciater Kabupaten Subang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode analitik dengan pendekatan cross sectional. Data yang diambil diperoleh dari kuesioner yang diberikan kepada ibu hamil di Desa Nagrak. Hasil penelitian ini adalah usia ibu hamil di Desa Nagrak 76,7% berusia 20-35 tahun, 36,67% berpendidikan 7-9 tahun, 40% tidak bekerja, 50% paritas 0-1, 50% usia kehamilan trimester II, pengetahuan tempat persalinan 60% kurang, tentang penolong persalinan 56,7% baik, dan tentang jampersal 60% baik. sebelum ada program Jampersal 60% ibu hamil memilih bersalin di rumah dan 57%  memilih ditolong paraji. Setelah ada program Jampersal 46,67% ibu memilih bersalin di polindes dan 66,67% memilih ditolong bidan desa. Didapat p = 0,032 untuk pemilihan tempat persalinan yang berarti memiliki pengaruh bermakna dan p = 0,051 untuk penolong persalinan yang berarti tidak memiliki pengaruh yang bermakna.

Kata Kunci: Jampersal, penolong persalinan, tempat persalinan

1.1    Pendahuluan

Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih cukup tinggi dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya. Menurut data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007, AKI 228 per 100.000 kelahiran hidup, AKB 34 per 1000 kelahiran hidup, Angka Kematian Neonatus (AKN) 19 per 1000 kelahiran hidup. Berdasarkan kesepakatan global (Millenium Develoment Goals/MDG’s 2000) pada tahun 2015, diharapkan angka kematian ibu menurun dari 228 pada tahun 2007 menjadi 102 per 100.000 KH dan angka kematian bayi menurun dari 34 pada tahun 2007 menjadi 23 per 1000 KH. Menurut data Kemenkes, 90% kematian ibu disebabkan karena persalinan dan segera setelah pesalinan yaitu perdarahan 28%, eklamsia 24%, infeksi 11%, komplikasi pueperium 8%, partus macet 5%, abortus 5%, trauma obstetrik 5%, emboli 3%, dan lain-lain 11%. Salah satu penyebab hal ini adalah karena masih banyaknya ibu tidak mampu yang persalinannya tidak dilayani oleh tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan yang baik karena terkendala biaya. Menurut survei hanya 43,2% yang persalinannya ditolong oleh tenaga kesehatan, sedangkan 54% ditolong oleh dukun. Sampai saat ini, kepercayaan masyarakat terhadap dukun bayi masih tinggi dan masih banyak sehingga masih ada persalinan di rumah dengan tenaga non-kesehatan. Hal ini menjadi suatu peringatan bahwa masih ada masyarakat yang belum mengerti tentang petingnya bersalin di tenaga kesehatan dan risiko bersalinan di tenaga non-kesehatan. Salah satunya di Desa Nagrak Kabupaten Subang, terdapat 20% persalinan masih ditolong oleh tenaga non-kesehatan. Seharusnya persalinan di tenaga kesehatan sudah 100%. Hal ini disebabkan karena biaya persalinan di tenaga kesehatan dianggap lebih mahal daripada ke tenaga non-kesehatan. Begitu pula dengan angka persalinan di rumah yang masih cukup tinggi yaitu sebesar 45%. Hal ini disebabkan oleh biaya persalinan yang lebih murah daripada haris ke fasilitas kesehatan lainnya apalagi bila melahirkan di rumah sakit.

2.2 Tinjauan Pustaka

Jampersal (jaminan persalinan) adalah jaminan pembiayaan pelayanan persalinan yang meliputi pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, pelayanan nifas termasuk pelayanan KB paska persalinan dan pelayanan bayi baru lahir. Persalinan dan kelahiran merupakan gejala fisiologis yang normal. Kelahiran seorang bayi merupakan peristiwa sosial dimana seorang ibu dan keluarga menunggu proses tersebut selama 9 (sembilan) bulan. Persalinan merupakan suatu proses alami yang ditandai oleh terbukanya serviks, diikuti dengan lahirnya bayi dan plasenta. Tujuan asuhan persalinan adalah memberikan asuhan yang memadai selama persalinan dalam upaya mencapai pertolongan yang bersih dan aman dengan memperhatikan aspek sayang ibu dan sayang bayi. Salah satu peran serta suami dalam menurunkan angka kematian ibu adalah suami dapat memastikan persalinan isterinya ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih dan dapat berjalan dengan aman. Untuk itu suami perlu diberikan pengetahuan melalui pendidikan kesehatan tentang persiapan persalinan yang aman.
Jampersal (jaminan persalinan) adalah jaminan pembiayaan pelayanan persalinan yang meliputi pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, pelayanan nifas termasuk pelayanan KB paska persalinan dan pelayanan bayi baru lahir. Pelayanan persalinan dilakukan secara terstruktur dan berjenjang berdasarkan rujukan. Jenis pelayanan Jaminan persalinan di tingkat pertama meliputi: pemeriksaan kehamilan; pertolongan persalinan normal; pelayanan nifas; termasuk KB pasca persalinan; pelayanan bayi baru lahir; Penanganan komplikasi pada kehamilan, persalinan, nifas dan bayi baru lahir. Peserta jaminan persalinan mendapatkan manfaat pelayanan yang meliputi: pemeriksaan kehamilan (ANC), meliputi : 1 kali pada triwulan pertama, 1 kali pada triwulan kedua, 2 kali pada triwulan ketiga. Pertanggungjawaban klaim pelayanan Jaminan Persalinan dari fasilitas kesehatan tingkat pertama ke Tim Pengelola Kabupaten/Kota dilengkapi: Fotokopi lembar pelayanan pada Buku KIA sesuai pelayanan yang diberikan untuk Pemeriksaan kehamilan, pelayanan nifas, termasuk pelayanan bayi baru lahir dan KB pasca persalinan; Partograf yang ditandatangani oleh tenaga kesehatan penolong persalinan untuk Pertolongan persalinan; Fotokopi/tembusan surat rujukan, termasuk keterangan tindakan pra rujukan yang telah dilakukan di tandatangani oleh ibu hamil/ibu bersalin; Fotokopi identitas diri (KTP atau identitas lainnya) dari ibu hamil/yang melahirkan. Karakteristik juga dapat menunjang keberhasilan jampersal misalnya : umur (Umur sangat berpengaruh terhadap proses reproduksi, khususnya usia 20-25 tahun merupakan usia yang paling baik untuk hamil dan bersalin.
Kehamilan dan persalinan membawa resiko kesakitan dan kematian lebih besar pada remaja dibandingkan pada perempuan yang telah berusia 20 tahunan, terutama di wilayah yang pelayanan medisnya langka atau tidak tersedia. Umur juga mempengaruhi pengalaman yang didapat oleh seorang perempuan yang membuatnya dapat memutuskan suatu sikap.) Dengan demikian diperlukan pendekatan untuk mendukung pola pikir ibu dengan kebijakan yang memudahkan ibu secara finansial untuk melahirkan di tenaga kesehatan yaitu dengan program Jampersal. Harapannya semua ibu hamil dapat melahirkan secara aman dengan adanya program Jampersal ini; Pendidikan berasal dari kata didik, Lalu kata ini mendapat awalan kata me- sehingga menjadi mendidik artinya memelihara dan memberi latihan. Ajaran, tuntutan dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran diperlukan untuk memelihara dan memberi latihan. Pengetahuan merupakan suatu hal yang sangat dibutuhkan dalam rangka perubahan pola pikir dan perilaku suatu kelompok dan masyarakat. Pengetahuan ini terkait dengan lingkungan di mana ibu hamil menetap. Keadaan lingkungan sekitar sedikit banyaknya akan mempengaruhi pengetahuan, dalam hal ini pengetahuan mengenai kehamilan dan persalinan. Sosialisasi jampersal yang optimal dan merata membuat masyarakat menjadi tahu dan mengerti mengenai konsep persalinan aman oleh tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan. Selain itu, jampersal ini dimaksudkan untuk menghilangkan hambatan finansial bagi ibu hamil untuk mendapatkan jaminan persalinan, yang didalamnya termasuk pemeriksaan kehamilan, pelayanan nifas termasuk KB pasca persalinan, dan pelayanan bayi baru lahir. Dengan demikian keberadaan jaminan pembiayaan kesehatan sangat berarti.

3.3 Metode Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini menggunakan data primer yang dikumpulkan melalui kuisioner. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil di Desa Nagrak Kecamatan Ciater Kabupaten Subang sebanyak 31 orang. Sampel diambil dari seluruh populasi yang ada yaitu seluruh ibu hamil di Desa Nagrak Kecamatan Ciater Kabupaten Subang. Namun karena 1 orang ibu hamil sedang tidak ada di desa pada saat penelitian maka sampel menjadi 30 orang ibu hamil.

4.4 Hasil Penelitian

Penelitian dilakukan pada responden sebanyak 30 orang ibu hamil dan 1 orang ibu hamil tidak dapat diikutsertakaan pada penelitian karena sedang tidak berada di Desa Nagrak.Umur sangat berpengaruh terhadap proses reproduksi, khususnya usia 20-35 tahun merupakan usia yang paling baik untuk hamil dan bersalin. Kehamilan dan persalinan pada usia 20-35 tahun 10 kali lipat mengurangi berbagai risiko komplikasi kehamilan. Namun yang perlu diperhatikan adalah walaupun rentang usia 20-35 tahun merupakan usia yang ideal untuk bereproduksi tetapi juga bukan berarti ibu terhindar 100% dari komplikasi kehamilan dan persalinan. Banyak faktor lain yang dapat menyebabkan berbagai risiko saat kehamilan selain usia ibu saat hamil. Untuk mencegah kemungkinan terjadinya bahaya atau komplikasi saat hamil dan bersalin maka diperlukan upaya untuk mencegah atau menguranginya. Salah satunya dengan bersalin di tenaga kesehatan. Sebagian besar ibu hamil di desa Nagrak 36,67% 7-9 tahun atau setingkat SMP dan 33,33% berpendidikan 1-6 tahun atau setingkat SD. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar ibu hamil berpendidikan rendah.
Pada penelitian ICPD 1999 yang diadakan di Lima-Peru pelayanan kesehatan dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, sebanyak 82% wanita berpendidikan memilih pelayanan tenaga kesehatan  dan wanita tidak berpendidikan yang memilih tenaga kesehatan hanya 62%. Penelitian serupa yang dilakukan oleh Bangsu tahun 1998 menunjukkan bahwa pendidikan ibu merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap pemilihan tenaga penolong persalinan dengan p = 0.00. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu yang berpendidikan kurang, 86.21 % memilih dukun bayi sebagai penolong persalinan dan ibu yang berpendidikan tinggi, 85.42 % memilih tenaga medis sebagai penolong persalinan. Dengan adanya program jampersal, diharapkan masyarakat akan beralih dari paraji menjadi ke tenaga kesehatan karena jampersal ini dikeluarkan untuk memfasilitasi semua golongan masyarakat untuk bersalin di tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan yang diharapkan akan turut menekan AKI dan AKB.
Pada pekerjaan dapat dilihat bahwa ibu hamil di desa Nagrak 40% tidak bekerja. Wanita yang tidak bekerja tidak akan mempunyai penghasilan, akan bergantung pada suaminya, cenderung akan mengikuti kemauan suami/keluarganya sehingga tidak diberi kesempatan/kebebasan untuk menentukan pilihannya sendiri sehingga sulit untuk memutuskan dalam mencari pertolongan kesehatan akhirnya cenderung melahirkan di rumah.  Secara material, persalinan di rumah adalah tindakan menghemat biaya yang banyak dan mendatangkan keuntungan bagi keluarga dalam arti persalinan dirumah menghemat waktu, tenaga, dan biaya. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar ibu hamil di Desa Nagrak dapat menentukan sendiri siapa penolong persalinannya dan tidak terpengaruh akan status pekerjaan dirinya, namun dengan kurangnya pengetahuan karena pendidikan tentang kesehatan masih kurang sehingga mereka memutuskan paraji sebagai penolong persalinannya serta dikarenakan karena biaya persalinan yang cukup memberatkan menurut ibu hamil.
Jika dari paritas diperoleh data bahwa 50% ibu hamil memiliki paritas 0-1. Paritas 0-1 merupakan dalam kondisi berisiko untuk bereproduksi. Menurut Dinas Kesehatan (1999) dan Djaswadi, dkk (2000) ibu hamil yang pertama kali dan ibu yang telah hamil lebih dari tiga kali mempunyai risiko kematian yang lebih tinggi bila mengalami komplikasi obstetri.  Dengan program jampersal, ibu dapat mempersiapkan persalinan ibu dengan baik. Karena paket jampersal dimulai dari ANC sampai ibu ber-KB. Diharapkan ibu hamil dapat sedini mungkin untuk memutuskan bersalin di tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan.
Pada pengetahuan dapat dilihat bahwa 60% pengetahuan ibu tentang tempat persalinan adalah kurang. Sedangkan tentang penolong persalinan 56,7% adalah baik. Pengetahuan yang kurang dapat disebabkan karena sebagian besar pendidikan ibu adalah 7-9 tahun yaitu 36,67% dan 1-6 tahun yaitu 33,33%. Jika pengetahuan ibu tentang informasi jampersal bahwa 60% ibu memiliki pengetahuan yang baik tentang jampersal. Ini dapat disebabkan oleh sosialisasi jampersal yang sudah cukup baik dan program jampersal sudah berjalan di Desa Nagrak walaupun belum maksimal artinya belum semua ibu hamil dan bersalin yang menggunakan program ini dan juga masih terdapat ibu hamil (40%) yang pengetahuannya kurang mengenai Jampersal. Ini dapat disebabkan kurang meratanya sosialisasi Jampersal kepada masyarakat. Hal ini dapat pula disebabkan oleh pendidikan ibu yang kurang yang juga dapat berpengaruh pada daya tangkap ibu untuk memahami sesuatu. Dengan demikian, hendaknya Dinas Kesehatan lebih meningkatkan sosialisasi Jampersal agar masyarakat dapat memahami Jampersal serta pemanfaatannya.
Pengaruh dari program Jampersal terhadap rencana pemilihan tempat dan penolong persalinan pada sebelum dan sesudah adanya program jampersal. Pada tempat persalinan sebelum dan sesudah adanya program Jampersal nilai p-value uji korelasi Spearman sebesar 0,032 (<0,05). Sedangkan pada penolong persalinan sebelum dan sesudah adanya program Jampersal nilai p-value uji korelasi Spearman sebesar 0,051 (> 0,05). Ini artinya program Jampersal memiliki pengaruh yang bermakna terhadap pemilihan tempat persalinan. Namun, pada pemilihan penolong persalinan tampak bahwa tidak terdapat pengaruh yang bermakna secara statistik. Sebaliknya, pada pemilihan penolong persalinan, secara statistik menjadi tidak bermakna karena terdapat beberapa variabel yaitu, paraji, bidan desa, dan bidan parktek swasta. Apabila melihat hanya satu variabel saja, yaitu pemilihan paraji sebagai penolong persalinan, terdapat penurunan presentase pemilihan paraji untuk penolong persalinan dan bila dihitung korelasinya, terdapat korelasi yang sangat bermakna. Hal ini menggambarkan bahwa ibu hamil sudah memilih penolong persalinan yang benar hanya tidak tampak secara statistik.

5.5 Kesimpulan

Berdasarkan karakteristik, sebagian besar ibu hamil berusia 20-35 tahun, berpendidikan 7-9 tahun, paritas 0-1, dan usia kehamilan trimester II, dan tidak bekerja. Berdasarkan pengetahuan, sebagian besar ibu hamil memiliki pengetahuan yang kurang mengenai tempat persalinan. Sedangkan pengetahuan tentang penolong persalinan serta jampersal adalah baik. Sebelum adanya program Jampersal, sebagian besar ibu hamil lebih memilih bersalin di rumah dan meemilih paraji untuk penolong persalinannya. Setelah adanya program Jampersal, sebagian besar ibu memilih untuk bersalin di polindes dan ditolong oleh bidan desa. Program Jampersal memiliki pengaruh yang bermakna terhadap pemilihan tempat persalinan, sedangkan untuk pemilihan penolong persalinan program Jampersal tidak memiliki pengaruh yang bermakna.

6.6 Saran

Dengan diketahuinya bahwa paraji masih digunakan oleh masyarakat untuk menolong persalinan sekalipun sudah diluncurkannya program jampersal, maka tenaga kesehatan hendaknya: meningkatkan sosialisasi program jampersal khususnya pada ibu hamil yang masih memilih bersalin di rumah dan ditolong oleh paraji; meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap bidan desa dengan menciptakan hubungan baik dan meningkatkan kinerja bidan desa; melakukan penyuluhan mengenai persalinan aman, persiapan persalinan, dan tanda bahaya kehamilan untuk meningkatkan pengetahuan ibu hamil.

Daftar Pustaka

Fatmawati. Tingginya angka kematian ibu. www.fatmawati.com. 2008. (diakses tanggal 9 Juni 2011)
Lucyati A. Kondisi status kesehatan di Jawa Barat. www.wartanusantara.blogspot.com. 2009. (diakses tanggal 11 Juni 2011)
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2011. Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan. Jakarta. (diakses tanggal 11 Juni 2011)
Dinas Kesehatan Jawa Barat. Apa dan bagaimana jampersal itu. dinkes.jabar.web.id. 2011.  (diakses tanggal 13 Juni 2011)
Media Bidan. Menkes keluarkan juknis jampersal. www. mediabidan.com. 2011. (diakses tanggal 13 Juni 2011)
Unimus. www.digilib.unimus.ac.id. Persiapan persalinan. (diakses tanggal 11 Juli 2011)
Sugiono. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung: CV Alfabeta. 2008.
Fatmawati. Tingginya angka kematian ibu. www.fatmawati.com. 2008. (diakses tanggal 9 Juni 2011)
Lucyati A. Kondisi status kesehatan di Jawa Barat. www.wartanusantara.blogspot.com. 2009. (diakses tanggal 11 Juni 2011)
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2011. Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan. Jakarta. (diakses tanggal 11 Juni 2011)
Dinas Kesehatan Jawa Barat. Apa dan bagaimana jampersal itu. dinkes.jabar.web.id. 2011.  (diakses tanggal 13 Juni 2011)
Elizabeth BH. Psikologi Perkembangan. Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama. 2004.
Yayasan Pendidikan Kesehatan Perempuan (YPKP). 2006. Islam dan hak-hak kesehatan reproduksi: Jakarta. Ford Foundation.
Notoatmodjo S. Metodologi penelitian kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta. 2005.
Yuliani V. Gambaran alasan ibu bersalin memilih paraji sebagai penolong persalinan di Desa Nagrak Kecamatan Cianjur Kabupaten Cianjur Tahun 2009. LTA Kebidanan FK UNPAD. Bandung: 2009